Kamis, 24 Mei 2012

Filsafat Umum


TUGAS MANDIRI
Filsafat Umum
DOSEN PENGASUH
Rabiatul Adawiah M.Ag
                                  
FILSAFAT
ABAD PERTENGAHAN
IAIN(B~1ori.JPG

 

DISUSUN OLEH :
ZULKIFLI
0901160184





INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI
FAKULTAS SYARIAH
JURUSAN PERBANKAN SYARIAH
BANJARMASIN
2011

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dalam sejarah filsafat ada saat-saat yang dianggap penting sebagai patokan suatu era ( zaman ), karena selain memiliki zaman atau khas, yaitu suatu aliran filsafat bisa meninggalkan pengaruh yang sangat bersejarah pada peradaban manusia.
Dalam sejarah filsafat ada saat-saat yang dianggap penting sebagai patokan suatu era ( zaman ), karena selain memiliki zaman atau khas, yaitu suatu aliran filsafat bisa meninggalkan pengaruh yang sangat bersejarah pada peradaban manusia.
Pada awal abad ke-6 filsafat berhenti untuk waktu yang lama. Segala perkembangan ilmu pada waktu itu terhambat. Hal ini disebabkan karena abad ke-6 dan ke-7 adalah abad-abad yang kacau. Karena pada waktu itu adanya perpindahan bangsa-bangsa yang masih belum beradab terhadap kerajaan romawi, sampai kerajaan tersebut runtuh.
Bersama kerajaan itu runtuh, runtuh pula lah peradaban romawi, baik itu yang bukan umat kristiani maupun peradaban kristiani yang di bangun pada abad ke-5 terakhir. Pada perkembangan peradaban yang kacau ini, ada yang berkembang pada peradaban yang baru di bawah pemerintahan Karel Agung ( 742 — 814 ), yang memerintah pada awal abad pertengahan, di eropa terdapat ketenangan di bidang politik.
Pada waktu itulah kebudayaan mulai bangkit, dan bangkitlah ilmu pengetahuan dan kesenian. Juga filsafat mulai di perhatikan. Filsafat abad pertengahan adalah suatu arah pemikiran yang berbeda sekali dengan pemikiran dunia kuno.

Masa ini diawali dengan lahirnya filsafat Eropa. Sebagaimana halnya dengan filsafat Yunani yang dipengaruhi oleh kepercayaan, maka filsafat atau pemikiran pada abad pertengahanpun dipengaruhi oleh kepercayaan Kristen. Artinya, pemikiran filsafat abad pertengahan didominasi oleh agama, sehingga corak pemikiran kefilsafatannya bersifat teosentris.
Filsafat abad pertengahan menggambarkan suatu zaman yang baru di tengah-tengah suatu perkumpulan bangsa yang baru, yaitu bangsa eropa barat. Filsafat yang baru ini disebut skolastik.
 Abad pertengahan selalu dibahas sebagai zaman yang khas akan pemikiran eropa yang berkembang pada abad tersebut, dan menjadikan suatu kendala yang disesuaikan dengan ajaran agama. Dalam agama kristen, pada abad pertengahan, tentu saja ada kecerdasan logis yang mendukung iman religius. Namun iman sama sekali tidak disamakan dengan mistisisme.
B. Perumusan Masalah
Dalam makalah yanhg akan saya presentasikan ini, saya membagi beberapa sub yang membahas tentang filsafat abad pertengahan yaitu :
1. Keadaan pada permulaan abad pertengahan
2. Masa penting pada abad pertengahan
3. Beberapa filosof pada abad pertengahan dan Pemikiran para filosof abad pertengahan








BAB II
PEMBAHASAN

A. Keadaan pada Permulaan Abad Pertengahan
Filsafat barat abad pertengahan ( 476-1492 M ) juga dapat dikatakan sebagai abad gelap, karena pendapat ini didasarkan pada pendekatan gereja. Memang pada saat itu tindakan gereja sangat membelenggu kehidupan manusia, sehingga manusia tidak lagi memiliki kebebasan untuk memiliki untuk mengembangkan potensi yang terdapat pada dirinya dan tidak mempunyai kebebasan berpikir. Apabila terdapat pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan ajaran agama Kristen orang tersebut akan dikenakan hukuman berat. Karena itu, kajian terhadap agama ( teologi ) yang tidak berdasarkan ketentuan gereja akan mendapatkan larangan ketat. Yang berhak mengadakan penyelidikan terhadap agama adalah pihak gereja. Walaupun demikian, ada juga yang melanggar larangan tersebut dan mereka dianggap orang murtad dan kemudian diadakan pengejaran ( inkuisisi ). Pengejaran terhadap orang-orang murtad ini mencapai puncaknya pada saat Paus Innocentius III diakhir abad XII, dan yang paling berhasil dalam pengejaran orang-orang murtad ini di Spanyol.[1]
Sedangkan ciri-ciri pemikiran abad pertengahan adalah :
1.      Cara berfilsafat di pimpin oleh orang gereja.
2.      Berfikir dalam lingkungan ajaran Aristoteles.
3.      Berfilsafat dengan pertolongan Augustinus dan lain-lain.[2]

              Masa Abad Pertengahan ini juga dapat dikatakan sebagai suatu masa yang penuh dengan upaya menggiring manusia kedalam kehidupan atau system kepercayaan yang picik dan fanatik, dengan menerima ajaran gereja secara membabi buta. Karena itu perkembangan ilmu pengetahuan terhambat.
              Masa ini penuh dengan dominasi gereja, yang tujuannya untuk membimbing umat ke arah hidup yang saleh. Namun, disisi lain dominasi gereja ini tanpa memikirkan martabat dan kebebasan manusia yang mempunyai perasaan, pikiran, keinginan, dan cita-cita untuk menentukan masa depannya sendiri.

B. Masa Penting pada Abad Pertengahan
Sejarah Abad Pertengahan dibagi menjadi dua jaman, yakni jaman patristik dan jaman skolastik
1. Zaman Patristik ( Abad ke-2 sampai Abad ke-7 )
              Istilah Patristik berasal dari kata Latin pater atau bapak, yang artinya para pemimpin gereja. Para pemimpin gereja ini dipilih dari golongan atas atau golongan ahli piker. Dari golongan ahli piker inilah menimbulkan sikap yang beragam pemikirannya. Mereka ada yang menerima filsafat Yunani dan ada juga yang menerimanya. Di sinilah muncul pro dan kontra terhadap penerimaan filsafat. Karenanya, Jaman Patristik ditandai dengan usaha keras para Bapa Gereja untuk mengartikulasikan, menata, dan memperkuat isi ajaran Kristen serta membelanya dari serangan kaum kafir dan bid'ah kaum Gnosis.
              Bagi mereka yang menolak, alasanya karena beranggapan bahwa sudah mempunyai sumber kebenaran yaitu firman Tuhan, dan tidak dibenarkan apabila mencari sumber kebenaran yang lain seperti dari filsafat Yunani. Bagi mereka yang menerima sebagai alasannya beranggapan bahwa walaupun telah ada sumber kebenaran yaitu firman Tuhan, tetapi tidak ada jeleknya menggunakan filsafat Yunani hanya diambil metodosnya saja ( tata cara berpikir ). Juga, walaupun filsafat Yunani sebagai kebenaran manusia, tetapi manusia juga sebagai ciptaan Tuhan. Jadi, memakai/menerima filsafat Yunani diperbolehlkan selama dalam hal-hal tertentu tidak bertentangan dengan agama.
              Akhirnya terjadi pertentangan antara orang yang menerima filsafat Yunani dan orang yang menolak filsafat Yunani dan akibatnya muncul upaya untuk membela agama Kristen, yaitu para apologis ( pembela iman Kristen ) dengan kesadarannya membela iman Kristen dari serangan filsafat Yunani. Para pembela iman Kristen tersebut adalah Justinus Martir, Irenaeus, Origenes, Gregorius, Nissa, Tertullianus, Diosios Arepagos, Au-relius Agustinus.
          a. Justinus Martir
Menurutnya filsafat Yunani itu mengambil dari kitab Yahudi. Pandangan ini didasarkan bahwa Kristus adalah logos. Dalam mengembangkan aspek logosnya ini orang-orang Yunani ( Socrates, Plato, dll ) kurang memahami apa yang terkandung dan memancar dari logosnya, yaitu pencerahan sehingga oran-orang Yunani dapat dikatakan menyimpang dari ajaran murni. Mengapa menimpang ? karena orang-orang Yunani terpengaruh oleh demon atau setan. Demon atau setan tersebut dapat mengubah pengetahuan yang benar kemudian dipalsukan. Jadi, agama Kristen lebih bermutu dibandingkan dengan filsafat Yunani.
          b. Klemens ( 150-215 )
ia juga termasuk pembela Kristen, tetapi ia tidak membenci filsafat Yunani. Pokok-pokok pikirannya adalah sebagai berikut :
-          Memberikan batasan-batasan terhadap ajaran Kristen untuk mempertahankan diri dari otoritas filsafat Yunani.
-          Memerangi ajaran yang anti terhadap Kristen dengan menggunakan filsafat Yunani.
-          Bagi orang Kristen, filsafat dapat dipakai untuk membela iman Kristen dan memikirkan secara mendalam.
          c. Tertullianus
Ia dilahirkan bukan dari keluarga Kristen, tetapi setelah melaksanakan pertobatan ia menjadi gigih membela Kristen secara fanatic. Ia menolak kehadiran filsafat Yunani karena filsafat dianggap sesuatu yang tidak perlu. Baginya berpendapat, bahwa wahyu Tuhan sudahlah cukup. Tidak ada hubungan antara teologi dengan filsafat, tidak ada hubungan antara Yerussalem ( pusat agama ) dengan Yunani ( Pusat filsafat ), tidak ada hubungan antara gereja dengan akademi, tidak ada hubungan antara Kristen dengan Penemuan baru.
Akan tetapi lama kelamaan, Tertullianus akhirnya menerima juga filsafat Yunani sebagai cara berfikir yang rasional. Alasanya, bagaimanapun juga berfikir yang rasional diperlukan sekali. Pada saat itu, karena pemikiran filsafat yang diharapkan tidak dibakukan, saat itu hanya mengajarkan pemikiran-pemikiran ahli pkir Yunani saja, sehingga akhirnya Tertullianus melihat filsafat hanya dimensi praktisnya saja, dan dia menerima filsafat sebagai cara atau metode berpikir untuk memikirkan kebenaran keberadaan Tuhan beserta sifat-sifatnya.
          d. Agustinus ( 354-430 )
Menurut pendapatnya, daya pemikiran manusia ada batasnya, tetapi pikiran manusia dapat mencapai kebenaran dan kepastian yang tidka ada batasnya, yang bersifat kekal abadi. Artinya, akal piker manusia dapat berhubungan dengan sesuatu kenyataan yang lebih tinggi.
Akhirnya, ajaran Agustinus berhasil menguasai sepuluh abad, dan mempengaruhi pemikiran Eropa. Perlu diperhatikan bahwa para pemikir Patristik itu sebagai pelopor pemikiran skoalistik. Mengapa ajaran sebagai akal dari skoalistik dapat mendominasi hampir sepuluh abad ? karena ajarannya lebih bersifat metode daripada suatu system seehingga ajarannya mampu meresap sampai masa skoalistik

2. Zaman Skoalistik
Istilah skoalistik adalah kata sifat yang berasal dari kata school, yang berarti sekolah. Jadi, skoalistik berarti aliran atau yang berkaitan dengan sekolah. Perkataan skoalistik merupakan corak khas dari sejarah filsafat abad pertengahan.
Terdapat beberapa pengertian dar corak khas skoalistik, sebagai berikut :
a. Filsafat skoalistik adalah filsafat yang mempunyai corak semata-mata agama. Skoalistik ini sebagai bagian dari kebudayaan abad pertengahan yang religious.
b. Filsafat skoalistik adalah filsafat yang mengabdi pada teologi atau filsafat yang rasional memecahkan persoalan-persoalan mengenai berfikir, sifat ada, kejasmanian, kerohanian, baik buruk. Dari rumuan tersebut kemudian muncul istilah skoalistik Yahudi, skoalistik Arab dan lain-lainnya.
c. Filsafat Skoalistik adalah suatu system filsafat yang termasuk jajaran pengetahuan alam kodrat, akan dimasukkan ke dalam bentuk sintesis yang lebih antara kepercayaan dan akal.
d. Filsafat skoalistik adalah filsafat Nasrani karena banyak di pengaruhi oleh ajaran gereja.
Para sejarawan filsafat membagi Jaman Skolastik ini ke dalam tiga periode;
1.         Periode Skolastik Awal (800-1200 M)
2.         Periode Skolastik Puncak (1200-1300 M)
3.         Periode Skolastik Lanjut/Akhir (1400 M)
a. Periode Skoalistik Awal (800-1200 M)
Ajaran Agustinus dan neo-Platonisme banyak berpengaruh. Pada periode ini, diupayakan misalnya, pembuktian Tuhan berdasarkan rasio murni tanpa berdasarkan kitab suci. Tokohnya adalah Anselmus. Selain para pemikir dari kristen, jangan pula dilupakan peran filosof Islam seperti Ibn Sina dan Ibn Rushd. Keduanya berperan hebat dalam memperkenalkan pemikiran Aristoteles dan neo-Platonis sehingga juga mempengaruhi Abad Pertengahan. Ibn Sina misalnya, berusaha mensintesiskan neo-Platonisme dan Aristotelianisme.
 Di antara tokoh-tokohnya adalah Aquinas (735-805), Johanes Scotes Eriugena (815-870), Peter Lombard (1100-1160), John Salisbury (1115-1180), Peter Abaelardus (1079-1180).
b. Periode Skoalistik Puncak (1200-1300 M)
Filsafat Aristoteles memberikan pengaruh yang besar. Universitas-universitas pertama didirikan di Bologna (1158), Paris (1170), Oxford (1200). Pada periode ini pula, terjadi kontrontasi dua golongan rohaniawan (ordo) antara ordo Fransiskan (berorientasi pada filsafat Agustinus) dan ordo Dominikan (berorientasi pada filsafat Aristoteles). Pada abad ke-13, terjadi sintesis besar dua khazanah pemikiran antara kristiani (ajaran Augustinus) dan filsafat Yunani (Plato, neo-Platonisme, dan Aristoteles). Tokohnya, Yohanes Fidanza (Bonaventura), Albertus Magnus, dan Thomas Aquinas. Hasil sintesis ini disebut Summa (keseluruhan, Latin).
Berikut ini beberapa factor mengapa masa skoalistik mencapai pada puncaknya.
1. Adanya pengaruh dar Aristoteles, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina sejak abad ke-12 sehingga sampai abad ke-13 telah tumbuh menjadi ilmu pengetahuan yang luas.
2. Tahun 1200 didirikan Universitas almamater di Prancis. Universitas ini merupakan gabungan dari beberapa sekolah. Almamater inilah sebagai awal (embrio) berdirinya Universitas di Paris, di Oxford, di Mont Pellier, di Cambridge dan lain-lainya.
3. Berdirinya ordo-ordo. Ordo-ordo inilah yang muncul karena banyaknya perhatian orang terhadap ilmu pengetahuan sehingga menimbulkan dorongan yang kuat untuk memberikan suasana yang semarak pada abad ke-13. Hal ini akan berpengaruh terhadap kehidupan kerohanian dimana kebanyakan tokoh-tokohnya memegang pperan di bidang filsafat dan teologi, seperti Albertus de Grote, Thomas Aquinas, Benaventura, J.D. Scotus, William Ocham.

Filsafat Aristoteles memberikan pengaruh yang besar. Universitas-universitas pertama didirikan di Bologna (1158), Paris (1170), Oxford (1200). Pada periode ini pula, terjadi kontrontasi dua golongan rohaniawan (ordo) antara ordo Fransiskan (berorientasi pada filsafat Agustinus) dan ordo Dominikan (berorientasi pada filsafat Aristoteles). Pada abad ke-13, terjadi sintesis besar dua khazanah pemikiran antara kristiani (ajaran Augustinus) dan filsafat Yunani (Plato, neo-Platonisme, dan Aristoteles). Tokohnya, Yohanes Fidanza (Bonaventura), Albertus Magnus, dan Thomas Aquinas. Hasil sintesis ini disebut Summa (keseluruhan, Latin). 

3. Zaman Skoalistik Akhir (1400 M)
              Masa ini ditandai dengan adanya rasa jemu terhadap segala macam pemikiran filsafat yang menjadi kiblatnya sehingga memperlihatkan stagnasi (kemandegan). Kepercayaan orang pada kemampuan rasio dalam memberi jawaban atas masalah-masalah iman mulai berkurang. Timbullah semacam keyakinan bahwa iman dan pengetahuan tidak dapat dipersatukan. Rasio tidak dapat mempertanggung jawabkan ajaran Gereja. Dan hanya iman yang dapat menerimanya. Kesalehan dan hidup mistik mendapatkan perhatian istimewa. Tokohnya seperti Thomas A. Jempis. Dan muncul tokoh lainnya di Jerman, Nicolaus Cusanus. Ia menampilkan "Pengetahuan mengenai Ketidaktahuan" ala Socrates dalam pemikiran kristianinya: "Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dapat kuketahui bukanlah Tuhan". Setelah periode ini, filsafat mulai memasuki periode jaman modern yang diawali dengan jaman Renaissans, jaman "Kelahiran Kembali" kebudayaan Yunani-Romawi di Eropa.























BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Istilah Abad Pertengahan merupakan istilah untuk menunjuk suatu jaman peralihan atau jaman tengah antara dua jaman penting sesudah dan sebelumnya; yakni Jaman Kuno (Yunani dan Romawi) dan Jaman Modern yang diawali dengan masa Renaissans pada abad ke-17. Sejarah Abad Pertengahan dimulai kira-kira pada abad ke-5 sampai awal abad ke-17. Ciri Filsafat Abad Pertengahan: 1) Adanya hubungan erat antara Agama Kristen dan Filsafat. Dengan kata lain, filsafat Abad Pertengahan adalah filsafat Kristiani. 2) Tema Filsafat Abad Pertengahan adalah hubungan antara iman yang berdasarkan wahyu-Ilahi dan pengetahuan yang berdasarkan kemampuan rasio-manusia. 3) Dapatlah dikatakan bahwa Filsafat Abad Pertengahan adalah filsafat agama dengan agama kristiani sebagai basisnya. Jaman penting abad pertengahan: 1) jaman Patristik, 2) jaman Skoalistik










DAFTAR PUSTAKA

Asmoro, Achmadi. Filsafat Umum, Jakata: PT. Raja Grafindo Persada,2008.
Tafsir, ahmad. Filsafat Umum Akal sejak Thales Sampai Chapra. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2010.
www.google.com




[1] Asmoro Achmadi. Filsafat Umum, (Jakata: PT. Raja Grafindo Persada,2008), hal.67
[2] Ibid.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas komentarnya